Selasa, 15 September 2009

S U J U D

Sajadah panjang tergelar apik di hamparan,
berarah satu dalam formasi baris yang tertata
menampung tubuh renta yang kehausan
Asmaranya melambung tinggi,
menerawang dalam angan sebagai hamba
menistakan batas tirai yang menghalangi
Dahinya menggesek birunya beledru,
mengeluarkan percikan rindu akan keagungan
menghadirkan bulir-bulir kesegaran dalam jiwa yang kehausan
Hidungnya mencium aroma kasturi,
yang terhembus dari semilir angin syurga
memberikan getar-getar kebahagian yang hakiki
Mulutnya berguman tentang kerinduan yang terpendam
Begitu menggebu di balik hati yang kasmaran
“Maha suci Allah yang Maha tinggi, segala puji hanya kepada Nya”
Perlahan raganya membungkuk penuh penghambaan
membentuk sebuah penyerahan dengan penuh ketulusan
kepada yang memiliki hidup dan pemberi kehidupan


 Lueng Putu, September 2009

AROMA yang TAK BIASA

Sekuntum bunga di antara tumpukan almanak yang menetapkan darsa
Tangkainya wangi semerbak kasturi memancarkan sejuta rahmat ke langit hati
Dari tengah kelopaknya menebarkan aroma maghfirah yang membius roh-roh keinsafan
Di ujung tangkainya berputik kebebasan bagi jiwa dalam keabadian
Ramadhan tidak sekedar wangi kuntum bunga
Dia bagaikan lingkup bumi yang ditumbuhi selaksa kembang
Dimana wanginya menembus batas cakrawala
Menusuk sukma dalam alunan kedamaian
Tidak inginkah tenggelam dalam aromanya,
dalam lautan kemahamurahan Sang Khaliq yang meruah ?
Sepekat malam yang berlalu dalam penghambaan suci
Lebih megah dari seribu tinta emas yang melukis masa
Setetes air wudhuk menyirami setiap detik hati,
Menjadi lautan anggur yang mengalir dalam sungai salsabil
Gemericik zikir dan tadarus di malam sunyi
Menjadi alunan merdu dalam singgah sana firdausi
Hembusan angin kasih sayang bagi yang fakir
Membentuk singgahsana megah di alam keabadian
Mari ...singkirkan bara nafsu yang akan membumihanguskan laba
Jangan biarkan sebutir debu hinggap di kelopak jiwa
Rawat dan hantarkan hingga ke ujung usia
Lapar dan dahaga senjata menembus tabir rahasia
Untuk meraih selaksa nikmat dari sang pemberi cinta

Lueng Putu, September 2009