Sekuntum bunga di antara tumpukan almanak yang menetapkan darsa
Tangkainya wangi semerbak kasturi memancarkan sejuta rahmat ke langit hati
Dari tengah kelopaknya menebarkan aroma maghfirah yang membius roh-roh keinsafan
Di ujung tangkainya berputik kebebasan bagi jiwa dalam keabadian
Ramadhan tidak sekedar wangi kuntum bunga
Dia bagaikan lingkup bumi yang ditumbuhi selaksa kembang
Dimana wanginya menembus batas cakrawala
Menusuk sukma dalam alunan kedamaian
Tidak inginkah tenggelam dalam aromanya,
dalam lautan kemahamurahan Sang Khaliq yang meruah ?
Sepekat malam yang berlalu dalam penghambaan suci
Lebih megah dari seribu tinta emas yang melukis masa
Setetes air wudhuk menyirami setiap detik hati,
Menjadi lautan anggur yang mengalir dalam sungai salsabil
Gemericik zikir dan tadarus di malam sunyi
Menjadi alunan merdu dalam singgah sana firdausi
Hembusan angin kasih sayang bagi yang fakir
Membentuk singgahsana megah di alam keabadian
Mari ...singkirkan bara nafsu yang akan membumihanguskan laba
Jangan biarkan sebutir debu hinggap di kelopak jiwa
Rawat dan hantarkan hingga ke ujung usia
Lapar dan dahaga senjata menembus tabir rahasia
Untuk meraih selaksa nikmat dari sang pemberi cinta
Lueng Putu, September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar